Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2018

Goes to Manasik


Pas bertepatan tanggal 1 Muharram 1440 atau tanggal 11 September 2018. Alhamdulillah ku bisa meninggalkan sejenak kota Yogya menuju ke luar kota. Hari itu piknik ibu-ibu pengajian. Pertamanya ku agak ragu, yang lain udah daftar, ku daftar paling akhir. Ternyata masih ada jatah kursi, jatah ibu yang memang tidak daftar dan bisa kuwakili.  Ya.. rezeki anak sholeh deh. Bersama rombongan satu bis kita berangkat sekitar jam setengah pagi.   Selama perjalanan aku merasa tak enak badan. Rasa mual dan pengen muntah sangat terasa. Maklumlah 3 hari sebelum berangkat aku sakit batuk akut yang berpengaruh pada badan yang rada lemes. Untung di dalam bus, kita diminta berdzikir dan berdoa, dan doaku cuma satu, semoga aku kuat sampai tujuan. Perjalanan ini kita lewat Jatinom Klaten, katanya klo lewat Klaten lebih cepat dibanding lewat jalan Magelang dan akhirnya lewat Boyolali dan masuk Salatiga. Ketika mau masuk ke tol Salatiga ku tak sabar. Katanya gerbang tol Salatiga sangat indah tak beda jauh dengan pemandangan di luar negeri sono. Tapi sayang ku tak menemukan pemandangan indah itu.. mungkin ku duduk di belakang kali ya.. ok sudahlah..


Sekitar jam 9an kita mampir sejenak di masjid Al Mabrur Ungaran untuk sholat dhuha. Arsitektur masjid ini lumayan bagus dan masjidnya juga lumayan gedhe. Sepertinya masjid ini memang digunakan untuk para pelancong yang ingin mampir sholat. Terlihat parkiran masjid yang lumayan luas. Bus pun bisa masuk ke halaman masjid. Di masjid ini, kita sholat dhuha berjamaah 4 rokaat, 2 kali salam. Setelah sholat, kita briefing sebentar untuk diberi pengarah dan pengetahuan tentang tata cara dan doa haji dan umroh..
Setelah briefing lanjut kita menuju Firdaus Fatimah Azzahrah.. Tak lupa ku foto dulu bagian depan masjid Al Mabrur biasalah buat kenangan-kenangan.. J
                 
Foto masjid Al Mabrur

Perjalanan ke Firdaus fatimah Zahra (FFZ) dari masjid Al Mabrur sekitar setengah jam. Itu pun nyaris mau nyasar, karena pak pilot bus  (mungkin) belum pernah ke FFZ.. jalan menuju FFz agak sempit untuk ukuran jalan bus dan tempatnya juga agak menanjak. Daerahnya juga tidak begitu ramai dan sepertinya daerah pinggiran kota.
Akhirnya sampai juga kita di FFZ, wah.. gerbang masuknya nya terlihat megah banget.. gimana dalemnya. Penasaran ?? Lets go.. mari kita mulai manasik. Bismillah...

Foto gerbang Firdaus Fatimah zahra

Sebelum masuk ke dalam kita diberi paspor.. Paspor ?? yYups.. Paspor KW alias paspor-pasporan. berasa mau terbang ke Arab ya.. kita masuk ke bandara melalui imigarasi dengan menunjukkan paspor itu.. Wihh keren !!
    
Foto Pasport, bandara dan imigrasi

Dari imigrasi ternyata langsung menuju Masjidil Haram. Di situ kita belajar tawaf, sai dari Shafa-Marwah. Namun kita hanya diberi pengarahan dan pengetahuan. Beda dengan rombongan lain yang bener2 praktek doa-doa atau bacaan tawaf dan sai. Dari Masjidil Haram lanjut wukuf di Arafah. Disitu memang berdiri tenda-tenda kecil yang berjejar rapidan deretan kamar mandi yang katanya persis seperti aslinya. Dari wukuf, lanjut lontar jumrah. Di situ berdiri 3 lingkaran sumur tempat saat kita melempar jumrah. Saat wukuf berada di bukit Jabal Rahmah, di situ juga ada walaupun bukitnya tidak terlalu tinggi. Naiknya juga ada tangganya..
    
Foto. Gerbang Masjidil Haram, Kabah, saat sai, wukuf di Arafah, dan jumrah

Terakhir kita bergerak menuju ke Madinah, ke masjid Nabawi. Dari luar ku kira masjid beneran bisa buat sholat ternyata hanya replikanya. Pas masuk masjid lihat dalamnya. Subhanallah.. bagus banget. Di situ kita berhenti sejenak, diterangkan tentang masjid Nabawi yang di dalamnya ada satu ruang namanya Raudhah. Jika kita berdoa di Raudhah insya Alloh doa-doa akan dikabulkan.
    
Foto depan replika masjid Nabawi, bagian dalam masjid Nabawi dan Raudhah

Perjalanan manasik ini berakhir di masjid Nabawi. Saat itu sedah masuk sholat dhuhur. Kita sholat di musholla. Setelah menunaikan semua tata cara manasik kita istirahat sebentar di bandara dan segera meninggalkan FFZ. Dan alhamdulillah, walaupun ku berpanas-panas ria mengikuti tata cara manasik ternyata badan ini masih kuat. Pertanda baik nih. Rasa pusing dan lemes hilang seketika. Itulah hikmah dari ritual ini.
FFZ pada awalnya hanya usaha tour religi khusus haji plus dan umroh namun sekarang FFZ mendirikan tempat manasik yang sudah menjadi tempat wisata. Ini terlihat di parkiran banyak bus-bus dari luar kota. Memang FFZ tempat yang recommended untuk manasik bagi calon jamaah haji atau sekedar tempat wisata religi bagi jamaah pengajian yang akan melakukan wisata religi. Begitulah ceritaku tentang sedikit pengalaman berhaji/umroh. Mungkin saat ini aku hanya sekedar latihan manasik. Namun insya Alloh suatu hari nanti ku bisa menjadi salah satu tamuNya yang bisa berkunjung langsung ke Baitullah. Aamiin..


Kamis, 02 Juli 2015

Menapaki Museum Ullen Sentalu


B
erkunjung ke Ullen Sentalu merupakan salah satu agenda wisata yang telah lama kurencanakan. Dari akhir tahun kemarin. Dan baru terlaksana di medio tahun ini.. Museum Ullen Sentalu terletak di kawasan Kaliurang. Kebertulan jalan yang kita lalui lewat jalan Kaliurang ke arah utara sampai kita ketemu pos karcis, kita lurus saja sampai ketemu patung udang belok kiri dan ketemu markas TNI lurus saja sampai kita menemukan plang museum ullen sentalu belok kiri. Saat belok kiri itulah kita sempat ragu. benar ga nih jalannya.. karena saat jalan yang kita lalui hanya jalan sepi yang kanan kiri pepohonan seperti hutan. Namun kita tetap melewati jalan itu yang akhirnya kita menenukan sebuah bangunan yang terlihat masih sepi. Kita masih bingung. Bener gak nih museumnya. Akhirnya kita tanya ke bapak-bapak yang kelihatannya seorang security. Dan woolaa.. kita ga kesasar. Welcome to Ullen Sentalu.. yeeaayyy.. :-)


Suasana di museum masih sepi sepertinya memang belum banyak pengunjung yang datang. Atau kita yang datang kepagian ya.. harga tiket masuk ke museum ini cukup mahal 30ribu rupiah. 


Setelah membeli tiket tak langsung bisa masuk ke museum. Kita diminta menunggu karena untuk bisa masuk harus menggunakan jasa guide. Saat itu ternyata ada 3 orang pengunjung yang juga ikut menunggu. Untuk menunggu waktu, kita foto-foto dulu saja di sekitar pintu masuk. Setelah sekitar 10 menitan, kita diminta masuk berombongan. Guide kita seorang cewek masih muda. Sebelum melakukan penelusuran kita diberitahu tentang aturan-aturan ketika masuk museum. Aturannya adalah tidak boleh makan minum, tidak boleh merokok, tidak boleh memegang benda-benda yang ada di dalam museum dan TIDAK BOLEH FOTO... ohhh tidakkkk.. Masak kita ke museum ga ada dokumentasinya. Padahal menurutku museum ini cukup unik. Asik untuk berfoto ria..
Kita memasuki berbagai macam ruangan di museum ini. Kesan pertama memasuki ruangan. Aura mistis mulai terasa. Cahaya lampu ruangan hanya remang-remang dan suasana cukup sunyi.  Tak ada suara gamelan atau apalah itu. Hanya suara kita dan mbak guide saja. Mbak guide menjelaskan dengan penuh penghayatan. Selama menyusuri museum ini, mbak ini ngoceh terus dan hafal tentang setiap benda-benda atau lukisan-lukisan yang menempel di dinding museum. Ya iyalah.. hehe.. Sepanjang perjalanan menyusuri lorong-lorong museum ini kita akan disuguhkan tentang sejarah kraton-kraton dan silsilah keluarga kraton khusus berada di Yogyakarta dan Solo. Kita akan tahu bagaimana tata cara yang berlaku di dalam kraton dengan segala filosofinya. Jalan yang dilalui untuk pindah ke ruangan lain ruangan cukup membingungkan seperti berjalan di ruang labirin. Itulah gunanya guide, selain memberi informasi. Guide ini juga menuntun kita agar bisa masuk ke tiap-tiap ruangan tanpa kesasar. He..he..
Di tengah perjalanan tour ini, kita rehat sejenak sekitar 5 menitan. Kita akan disuguhi minuman yang katanya minuman rahasia kraton yang berkhasiat biar awet muda. Amin...

Perjalanan dilanjutkan kembali. Sampai akhirnya kita menuju ke sebuah ruang terbuka.. dan disitulah kita baru boleh berfoto-foto. Dan semua pada mengambil kamera atau HP masing-masing. Semua sudah pada gatel untuk foto..


Setelah memasuki ruang terbuka ini, berakhir sudah perjalanan singkat tentang Ullen Sentalu. Setelah melewati pintu keluar inilah kita bebas berfoto ria. dan saat kita ke Ullen Sentalu ternyata kita dapat bonus. kita bertemu dengan sang sutradara berambut kriwil alias Riri Riza. Tak meninggalkan moment ini. kita pun foto bersama..


 Begitulah sekelumit tentang museum Ullen Sentalu. Disini kita tidak akan membeberkan nama-nama ruangnya yang ada di Ullen Sentalu dan informasi tentang silsilah yang ada di keluarga kraton. Informasi itu bisa dicari di mbah google. Kesimpulannya kita wajib perlu mengunjungi museum ini apalagi bagi orang senang tentang budaya dan sejarah kraton di yogya dan Solo. Biarpun tiket masuk tergolong cukup mahal namun suguhan dan informasi yang kita dapat menambah wawasan tentang budaya jawa. Kalau bukan kita yang melestarikannya. Siapa lagi ??
                                                               

Jumat, 30 Januari 2015

Menanti Sunset di candi Boko



S
aat liburan kemarin, aku menyempatkan diri untuk berkunjung ke candi ratu Boko. Keinginan untuk melihat candi Boko sudah lama namun baru kesampaian akhir tahun 2014 kemarin. Seperti lihat foto-foto keinadahan candi Boko maka kita pergi pada sore hari. Harapannya kita bisa melihat sekalian mengambil moment sunset dalam bentuk foto yang katanya begitu indah.
Kita sebenarnya kurang begitu tahu persisnya jalan menuju ke candi Boko ini. Kita hanya mengikuti papan penunjuk arah. Kita lewat jalur selatan jalur Piyungan ke utara. Papan penunjuk arah candi Boko cukup terlihat dan memang jalannya cukup menanjak karena candi ini memang terletak di atas bukit.
Sebelum kulanjutkan ada sekelumit informasi tentang candi Boko yang kuambil dari google. Istana Ratu Boko adalah sebuah bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama Abhayagiri Vihara (berarti biara di bukit yang penuh kedamaian) ini didirikan untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Berada di istana ini, anda bisa merasakan kedamaian sekaligus melihat pemandangan kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi.
Istana ini terletak di 196 meter di atas permukaan laut. Areal istana seluas 250.000 m2 terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban. Sementara, bagian tenggara meliputi Pendopo, Balai-Balai, 3 candi, kolam, dan kompleks Keputren. Kompleks gua, Stupa Budha, dan kolam terdapat di bagian timur. Sedangkan bagian barat hanya terdiri atas perbukitan.
Kembali ke ceritaku, tiket masuk ke candi Boko tergolong cukup mahal 25.000 rupiah dengan karcis motor 2.000 rupiah. Ketika membeli tiket kita agak sedikit bingung ke mana arah ke candi karena setelah loket tiket kita hanya menjumpai sebuah restoran yang sepertinya cukup mewah. Ternyata pintu masuk candi ke arah timur. Kita akan mengikuti jalan setapak yang dikelilingi sebuah taman.

Sudut taman jalan setapak menuju ke candi

Dan ternyata saat itu, pengunjung sangat banyak sehingga kita bingung untuk berfoto ria. Karena semua orang pasti ingin berfoto di gerbang candi Boko ini. Setelah muter-muter cari spot yang bagus untuk foto akhirnya aku foto saja dua pohon besar yang berada di lapangan timur gerbang candi. 


Dari candi boko ini kita bisa melihat pemandangan alam sekitar prambanan dari atas. Dari spot ini kita bisa melihat dari jauh candi Prambanan tapi karena cuaca kurang cerah maka candi prambanan kurang terlihat jelas.

Ayo mana candi Prambanan ??

Sebenarnya banyak spot yang perlu dikunjungi di candi boko ini namun rata-rata candi sudah pada runtuh. Sejauh mata memandang jarang ada bentuk yang yang masih utuh berdiri.

Candi yang sudah runtuh

Setelah duduk-duduk di menunggu sunset. Inilah foto hasil jepretanku. Kurang puas karena banyak orang dan langit juga belum terlalu gelap tapi beginilah hasilnya...


Begitulah jalan-jalan singkat di candi Boko yang kesanku kurang mengasikkan. Dengan bayar tiket 25.000 sepertinya kurang puas untuk mengeksplore candi Boko. Daya tarik candi Boko memang hanya gerbang candi, yang lain sepertiku biasa saja. Namun aku tetap menghargainya. Inilah wisata candi yang tetap harus dikunjungi karena candi merupakan hasil karya nenek moyang yang harus kita lestarikan.

Minggu, 28 Desember 2014

Menanti sunset di Nglanggeran


S
ekitar awal bulan November kemarin aku punya kesempatan pergi ke Nglanggeran. Ya Nglanggeran ini merupakan tempat wisata yang sangat ingin aku kunjungi. Alhamdullillah kemarin ada kesempatan. Aku janjian dengan seorang teman  pada hari Sabtu. Sekitar jam 3 sore kita berangkat boncengan. Karena teman aku ini belum makan, kita mampir bentar makan di warung makan sekitar pasar Piyungan.  Aku sempat panik, waduh kok tidak langsung ke Nglanggeran padahal waktu pas jam setengah 4. Kita sampai sana mau jam berapa nih. Setelah setengah jam makan-makan kita melanjutkan perjalanan ke Nglanggeran. Arah Nglanggeran mengikuti jalan yang akan ke arah Wonosari. Di pertigaan Patuk kita belok ke kiri. Kita ikuti aja jalan. Jalan kampung yang lumayan rata. Ternyata tempat wisata Nglangeran ada 2 tempat, yaitu bukit Nglanggeran dan embung Nglanggeran. Akhirnya kita lurus saja menuju ke embung nglanggeran. Setelah ada gapura menuju ke embung kita berhenti sebentar untuk bayar tiket. Tiket masuk termasuk murah hanya 5000 rupiah per orang sedangkan parkir motor hanya 2000. Nah setelah bayar tiket ini kita masih jalan lagi.  Nah ini sensasinya ternyata jalan menuju ke embung sangat parah, jalan berbatu. Hadeuuh.. walaupun posisiku cuma mbonceng ternyata sangat tak nyaman. Untuk temanku jago naik motor dan motornya termasuk motor keluaran baru jadi tak masalah mengikuti jalan berbatu. Alhamdulillah jalan yang kurang mulus hanya sekitar satu kilometer.
Saat sampai di parkiran. Subhanallah... Kita disuguhi pemandangan bukit yang sungguh apik. Deretan bukit-bukit karts yang sangat elok. Sungguh Maha Besar, Alloh yang telah menciptakan alam raya yang indah ini.

Kumpulan bukit karts di Nglanggeran

Ternyata perjalanan belum selesai, kita meski jalan ke atas menuju embung. Kaki ini rasanya berat untuk jalan lagi. sejak turun dari motor kaki masih kaku schok melewatii jalan yang tidak rata. Namun karena rasa penasaran kita mulai jalan dan menaiki tangga-tangga naik menuju embung. Di sepanjang jalan naik ini kita menemukan papan-papan kayu yang berisi peribahasa jawa plus tulisan aksara Jawanya juga. Hebat.. 


Dan sampai juga kita di embung Nglanggeran. Ternyata embung ini tak begitu luas. Wah.. ternyata sore-sore gini pengunjung lumayan banyak juga. Rata-rata pengunjung adalah anak-anak muda yang datang berombongan. Dan seperti biasanya banyak yang sibuk berfoto-foto ria. 
Embung Nglanggeran

Setelah jalan-jalan mengelilingi embung lama-lama langit mulai gelap. Ingin rasanya lama-lama di embung ini sambil menyaksikan langit warna jingga. Namun apa daya karena mulai malam, dengan rasa menyesal kita beranjak pulang. Saat pulang rasanya tak pas jika tak mengabadikan momen sunset di sekitar embung ini..

Sunset di sekitar embung Nglanggeran

Sabtu, 27 Desember 2014

Jalan-jalan ke Tamansari



H
ari itu hari Sabtu pas hari libur nasional. Dan hari itu, aku janjian dengan seorang kawan untuk jalan-jalan ke Taman Sari. Taman Sari merupakan kompleks bangunan yang milik kraton Yogyakarta. Jujur aja biar aku lahir dan besar di Yogya tapi seumur-umur aku belum pernah masuk ke Taman Sari. Lucu juga sih. Karena rumahku dan temanku itu berjauhan maka kita janjian jam 9 ketemu di parkiran. Namun apa daya, aku yang molor. Bukannya apa-apa, ternyata aku kesasar. Salah lewat jalan. Maklum sudah lama banget aku tak melewati daerah Kraton paling-paling hanya sampai Alun-alun utara. Hadeuhh..
Kita ketemu juga di parkiran. Temenku senyum-senyum saat ku cerita kenapa aku bisa telat. Kemudian kita menuju ke loket membeli karcis masuk. Lumayan cukup antri. Maklum lah hari itu hari sabtu dan bertepatan dengan hari libur nasional. Aku tak tahu berapa harga tiket masuknya. Temenku memberi uang 50.000. dan ada kembaliannya. Oh, ternyata tiket masuk hanya 5.000 perak per orang. Murah ya...
Ketika kita masuk ke gerbang, di sepanjang jalan ada pohon kepel. Setahuku pohon kepel merupakan sejenis pohon yang dilindungi karena langka. Dan setelah aku browsing di internet ternyata dahulunya buah kepel merupakan buah favorit para putri kartaon karena buah kepel ini dipercaya bisa menghilangkan bau badan. Believe or not J
Pohon Kepel

Kemudian kita memasuki bagian kolam pemandian, kolam ini terdiri dari dua kolam yang di  sebelah utara dan selatannya dibatasi sebuah bangunan. Kita mencoba masuk ke bangunan yang sebelah selatan karena bangunan ini lebih tinggi dibanding yang selatan. Kita memasuki ruangan demi ruangan. Ternyata di situ ada ruangan tempat para putri luluran dan relaksasi mungkin kalau jaman sekarang sebagai tempat spa gitu deh..
     
     




















Kolam pemandian dilihat dari atas                   Bangunan di sebelah selatan kolam

Setelah dari kolam pemandian kita mencoba keluar.. ingin melihat bangunan yang lain. Tapi kita malah bingung kok tidak ada bangunan lain. Kita hanya menemukan gapura ini..
Gapura Taman Sari

Gapura ini mirip dengan gapura pas kita masuk setelah bayar loket. Bentuk gapura ini sangat indah karena bergaya asli Jawa pada detailnya terdiri dari sulur-sulur tanaman dan bentuk bulu, ekor dan sayap burung.
Di sekitar gapura terdapat toko batik dan wayang. Kebetulan di depan toko ini ada seorang bapak yang sedang membuat wayang. Dari sini kita tidak tahu mau kemana lagi. Coba tanya pengunjung lain mereka juga tidak tahu banyak. Masak sih Taman sari cuma segini saja setahuku ada masjidnya segala. Kemudian ada yang menyarankan kita ikuti saja lorong-lorong jalan kampung. Memang di sepanjang jalan ini banyak rumah-rumah penduduk yang diubah mnejadi toko souvenir/oleh-oleh kebanyakan toko menjual baju batik. Siang itu memang cukup panas tapi tak menyurutkan kami untuk jalan dan akhirnya di tengah jalan, kami menemukan ini..

Ya ini adalah tanda bahwa kita berada di kampung Taman, kampung cyber. Sebuah kampung yang sangat melek dengan internet. Bahkan CEO facebook, Mark Zureberg pernah ke sini.  Hmm.. berarti kita kalah dengan bule itu. Setelah jalan mengikuti orang-orang yang ada di depan kita. Akhirnya kita menemukan pulo Cemeti. Nah ini dia yang kami cari. Pulo cemeti adalah semacam banguan yang sudah rusak yang konon dahulunya sebagai tempat pengintaian bila ada serangan musuh. 
Bangunan di Pulo Cemeti

Tak jauh dari pulo Cemeti kita menemukan masjid bawah tanah. Ini dia gong dari perjalanan ini. Tak salah memang di sebut masjid bawah tanah. Bangunan ini memang berada di bawah tanah. Jika masuk kita harus melewati tangga menurun dan melewati lorong yang cukup gelap. Lorong gelap ini pun ada sejarahnya. Konon lorong ini jalan rahasia menghubungkan taman sari dengan kraton yogyakarta bahkan ada legenda bahwa lorong ini tembus  dengan pantai selatan dan merupakan jalan Raja Sultan untuk bertemu dengan Nyi Roro Kidul. 

Lorong menuju ke masjid bawah tanah

Dan akhirnya kita menemukan masjid bawah tanah ini. Ini masjid sangat berbeda dengan masjid–masjid lainnya. Masjid ini berbentuk bangunan melingkar yang ditengah-tengahnya terdapat tangga. Masjid ini terdiri dari 2 lantai. Lantai atas digunakan untuk pria dan lantai bawah untuk wanita. Sedangkan di bawah tangga ini yang dibawahnya bisa digunakan untuk  wudhu/bersuci sebelum sholat.
   
              
   Tempat wudhu di bawah tangga                            Masjid bawah tanah 2 lantai

Ya begitulah sekelumit jalan-jalan di kompleks Taman sari, sebuah objek wisata yang patut untuk dikunjungi apalagi para pecinta fotografi. Ya kompleks Taman sari adalah sekumpulan bangunan-bangunan tua yang sangat apik untuk dijadikan objek foto. Terkadang kompleks Taman sari ini digunakan sebagai objek foto pre wedding. Taman sari ini merupakan contoh cagar budaya yang sangat perlu dilestarikan. Bagaimana pun Taman sari bagian dari sejarah, sejarah dari Yogyakarta.
Dari pengamatan sepanjang jalan-jalan di Taman sari, kita juga mempunyai sedikit saran untuk pengelola Tamansari. Taman sari merupakan kompleks bangunan tua yang letaknya di tengah-tengah rumah penduduk. Sehingga bangunan satu dengan lainnya tidak begitu jelas arahnya tertutupi rumah penduduk. Maka menurut kita, sebaiknya pengelola memberi papan petunjuk arah bangunan yang ada di Tamansari untuk memudahkan pengunjung untuk mengetahui bangunan-bangunan apa saja di kompleks Taman sari ini. Memang di Tamansari disediakan guide tapi tak semua pengunjung ingin memakai guide kecuali wisatawan mancanegara atau wisatawan lokal yang datang berombongan. Semoga pengelolaan Taman sari dapat berubah menjadi lebih baik sehingga dapat memuaskan pengunjung dan mendorong pariwisata di Yogyakarta. (noer)